Bukan, saya bukan pendukung teori evolusi Darwin, tidak bermaksud pula mengkoreksi Harun Yahya yang menentang teori evolusi itu. Saya hanya pembaca dan penikmat teori kedua tokoh tersebut. Pernyataan yang kurang berdasar itu tercetus ketika saya naik bus dari Surabaya ke Malang. Sopir bus mengendarainya dengan ugal-ugalan, meliuk-liuk kekanan dan kekiri, padahal waktu itu lalulintas sedang padat. Sering bus melewati batas tengah jalan meskipun terlihat jelas diarah yang berlawanan ada kendaraan yang akan lewat. Apa boleh buat, daripada tertabrak bus dan mati konyol, kendaraan yang berlawanan arah mengalah dan turun dari badan jalan. Memang jalan seperti sudah menjadi milik sopir bus.
Semua tahu kalau bus itu sudah mondar-mandir Surabaya-Malang berkali-kali bahkan mungkin sudah ratusan kali. Semuapun tahu kalau sopir bus itu mempunyai jam kendara (menyamakan dengan jam terbang untuk pilot) yang tinggi, sangat mahir mengendalikan kendaraan yang berbadan besar itu. Tapi, apakah pada tempatnya mengendalikan bus sesuka hatinya, tidak memberi kesempatan pengguna jalan yang lain untuk melewatinya dengan nyaman.
Gila. Sebutan itu mungkin pantas diberikan untuknya. Jangankan sepeda motor, truk besarpun dilawan. Tidak merasa bersalah, malah tertawa dengan bangga. Benar-benar sopir yang kurang waras.
Kemudian, saya ingat, saya pernah melihat tayangan di TV tentang sekolompok kera yang hidup di hutan. Dalam hidup berkelompok, kera-kera menandai batas-batas daerah yang dianggap wilayah kekuasaannya. Jika ada kera dari kelompok lain masuk daerah itu, pasti akan dilawan. Tidak perduli, kera pendatang itu bermaksud baik atau jahat. Semua makanan di daerah kekuasaan itu juga menjadi milik kelompok itu.
Darwin mendasarkan teorinya pada garis keturunan yang sama (common descent), keanekaragamaan makhluk hidup di alam ini terjadi karena penyesuaian diri dengan habitat hidupnya. Karena kesamaan sifat antara sopir bus dan kera, mungkin Darwin benar. Jika dirunut jauh ke belakang, sopir bus itu mempunyai nenek moyang yang sama dengan kera-kera yang ada di hutan.
Ya… semoga hanya sopir bus itu saja yang bernenek moyang kera.
Tidak mudah memang menjadi ilmuan, selain harus punya etos kerja yang tinggi, punya ketelatenan dan punya semangat yang prima untuk mempelajari sesuatu, seorang ilmuan juga harus punya jiwa yang besar ketika suatu saat nanti teori yang dikembangkannya (ditemukannya) tidak dipakai lagi (gagal) karena ada teori baru yang lebih menunjukkan kebenarannya.
Hari Kamis kemarin (24/08/06) para Pekerja Astronomi Internasional (IAU) memutuskan untuk mencoret Pluto dari deretan planet dalam tata surya kita. Kini Tata Surya dengan Matahari sebagai pusatnya hanya mempunyai 8 planet saja (Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus dan Uranus).
Pluto ditemukan pada 18 Februari 1930 oleh seorang astronom dari Amerika, Clyde William Tombaugh (February 4, 1906 – January 17, 1997). Pada saat itu Tombaugh menemukan sebuah objek yang bergerak (moving object) dari foto-foto yang diambilnya pada 23 dan 29 Januari tahun yang sama. Berita penemuannya itu kemudian dikirimkan ke Harvard College Observatory pada 13 Maret 1930.
Setelah lebih dari 70 tahun akhirnya status Pluto direvisi menjadi planet kerdil. Persatuan Astronomi Internasional merumuskan ulang definisi palnet. Setelah melalui perdebatan yang sengit, definisi planet disepakati. Menurut definisi yang baru tersebut, benda-benda luar angkasa yang dapat disebut planet jika memenuhi syarat-syarat :
- Mengorbit ke Matahari
- Memiliki massa yang cukup untuk bergravitasi sendiri sehingga memiliki bentuk yang relatif bulat.
- Tidak membagi orbitnya dengan benda-benda lain yang berukuran relatif sama besarnya selain satelitnya sendiri.
Pluto tidak memenuhi syarat yang ketiga karena pada orbit pluto masih ada benda angkasa lain yang termasuk kelompok Trans Neptunus. Dengan demikian, buku-buku ilmu pengetahuan atau ensiklopedia yang menjadi referensi tentang planet-planet harus direvisi.
|
Orbit of Pluto – polar view. This ‘view from above’ shows how Pluto’s orbit (in red) is less circular than Neptune’s (in blue), and also shows how Pluto is sometimes closer to the Sun than Neptune. The darker halves of both orbits show where they pass below the plane of the ecliptic. The positions of both are marked as of April 16th, 2006; in April 2007 they will have barely changed by about 1 pixel. |
Begitulah, jika anda ingin menjadi seorang ilmuan, belajarlah untuk menerima kebenaran dari orang lain meskipun kebenaran itu bertentangan dengan kebenaran yang kita yakini sebelumnya.